Om Sai Ram
Tahun ini merupakan tahun pertama, dimana kita tidak lagi merayakan hari ulang tahun Bhagavan yang
biasanya kita istimewakan bersama Beliau secara fisik, dan tentu menjadi tahun pertama juga buat kita untuk
merayakan hari kelahiran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba. Masih kuat dalam ingatan kita pesan Beliau terkait
dengan perayaan hari ulang tahun. Beliau mengatakan, “hari ulang tahunKu, adalah hari ketika Ketuhanan
mekar dihatimu”. Beliau mengingatkan sekaligus memberi ruang bagi kita untuk membangun dan merasakan
kebahagiaan yang sempurna tidak hanya setiap tahun sekali, tapi disetiap tarikan nafas kita dengan catatan,
kita harus selalu memekarkan kasih di hati kita dan selalu terjaga dalam kesadaran Tuhan. Bhagavan memang
secara fisik tidak bersama kita lagi, tapi nama Beliau sendiri telah memberikan jaminan akan selalu mendampingi
kita selamanya. Tugas kita hanya menghentikan pencarian keluar (SEE-K) dengan mengalihkan pandangan ke
dalam diri (SEE). SAI = SEE ALWAYS INSIDE (selalu melihat ke dalam diri).
Tahun ini juga menjadi momentum peralihan yang penting bagi kita semua, mau tidak mau, suka tidak suka,
kita semua harus mentransformasi kesadaran kita, berangkat dari kesadaran fisik menuju kesadaran Atma.
Itulah perjalanan spiritual. Perjalanan yang memberangkatkan para bhaktaNya dari pandangan I (saya) menuju
WE (kita), kemudian dari WE (kita) menuju HE (Dia / Bhagavan). Perjalanan yang memberangkatkan kita dari
VIYOGA (ketidaksatuan) menuju YOGA (kesatuan), dari VYASTHI (partikular) menuju SAMASTHI (universal), dan
dari RITUAL menuju SPIRITUAL. Karena itulah, organisasi Sai Indonesia, ingin mengisi jiwa dari momentum yang
berharga ini melalui serangkaian perayaan hari kelahiran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba dengan mengusung
tema :
“YOUR LIFE IS MY MESSAGE”
Hidupmu adalah pesanKu
URAIAN TEMA
Tema ini dibentuk oleh empat dasar kata :
YOUR : adalah kita sebagai manusia, makhluk ciptaanNya yang sempurna
LIFE : Kehidupan kita yang terikat oleh dimensi ruang ( desa) dan waktu (kala) yang
perubahannya selalu membentuk keadaan baru (patra)
MY : adalah Bhagavan Sri Sathya Sai Baba sendiri sebagai Sad Guru dan sumber
segala-galanya bagi kita
MESSAGE : Pesan / wacana (tersirat / tersurat) yang telah diwariskan oleh Bhagavan.
Uraian singkatnya , BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADIKAN / MENJALANKAN KEHIDUPAN KITA SESUAI DENGAN
PESAN-PESAN YANG TELAH BHAGAVAN WARISKAN KEPADA KITA SEMUA.
Tema ini dihadirkan sebagai suatu isyarat bahwa, setelah 86 tahun Bhagavan mendampingi kita secara fisik,
tentu begitu banyak PESAN yang telah tersampaikan sebagai dasar bagi seseorang memahami esensi
kehidupannya (jnatum), begitu banyak DHARSAN yang telah beliau berikan untuk menguatkan keyakinan,
kesadaran dan eksistensi seseorang sebagai makhluk ciptaaNya yang sempurna (drastum), serta begitu banyak
contoh dan PENGALAMAN yang dihadirkan untuk menghiasi pandangan spiritual seseorang (pravestum). Tapipertanyaannya kemudian, sudahkan mutiara kasih yang Beliau wariskan tersebut dapat mentransformasi
kehidupan kita? Sudahkan kita berani menyatakan diri sebagai bhakta Sai karena kita sudah berperilaku
sesuai dengan ajaran-ajaranNya? Semangat dari tema ini harus mampu menjawab pertanyaan sekaligus
tantangan tersebut.
Penting untuk diperhatikan, dalam memulai misiNya, Beliau sendiri menempatkan hidupNya sekaligus sebagai
pesanNya, hal ini terdeklarasi melalui pernyataan Beliau, “My life is My Message – HidupKu adalah PesanKu”.
Beliau menghadirkan diriNya sendiri sebagai contoh yang patut ditauladani. Apapun pesan yang hendak Beliau
sampaikan, dipastikan sudah menyatu dengan kepribadianNya (to be), dipastikan sudah dilaksanakan dan
terealisasi dalam kehidupanNya (to do), dipastikan dilandasi dengan pengamatan dan pandangan yang bijak
(to see), sebelum akhirnya Beliau harus menyampaikannya dengan nada penuh cinta kasih (to tell) kepada
setiap orang. Setiap kata diyakini akan mempunyai makna dan kekuatan bila diawali dengan proses TO BE
(menjadi), TO DO (melakukan), TO SEE (melihat / mengamati), TO TELL (menyampaikan). Inilah strategi yang
dicontohkan oleh Bhagavan kepada seluruh umat manusia untuk mentransformasi dunia.
Dari uraian di atas, jika kemudian seseorang ingin mengetahui ajaran Bhagavan, sebenarnya amat sederhana;
cukup dengan mengetahui bagaimana Bhagavan menjalani kehidupanNya sehari-hari. Dari sana, kita akan
dapat menerima pesan-pesan Beliau. Tentu tidak semua pesan terurai dalam bahasa verbal melalui untaian
kata-kata yang mudah dipahami. Tapi pesan seorang Guru Agung sering kali terurai dalam keheningan, terurai
dalam contoh sikap dan tindakan, terurai dalam semangat pelayanan, terurai dalam untaian kata penuh misteri,
ataupun terurai dalam energi penuh kasih. Diperlukan penggalian makna dan pemahaman yang lebih
mendalam (deep understanding).
Belakangan kemudian, Beliau mengganti kata “My life . . .” dengan “your life...” sehingga lengkapnya
menjadi “your life is My Message - Hidupmu adalah pesanKu”. Pergantian kata “My” (Bhagavan = I) yang
merepresentasi eksistensi Bhagavan sebagai pribadi yang mahasempurna (Paramaatma) sekaligus sebagai
sumber kebenaran, kebajikan, kasih sayang, kedamaian dan tanpa kekerasan, - MENJADI “your”
(kamu/kita) yang mencerminkan pribadi sempurna (atma) namun masih terbelenggu oleh sifat keakuan
(ahangkara = a) dan keterikatan ilusi (maya = m) mengisyaratkan bahwa, Bhagavan menghendaki dan terus
memberi kesempatan kepada “your” (kamu/kita = i) yang masih terbelenggu ini, untuk terus meningkatkan
kesadaran dan bergerak bertransformasi menuju “My” (Bhagavan = I), dengan berpegang dan
mengejewantahkan setiap wejangan (tersirat maupun tersurat) dari Sad Guru Bhagavan Sri Sathya Sai Baba serta
dengan tidak henti-hentinya berjuang untuk memupus sifat-sifat keakuan (ahamkara = a) dan keterikatan
akan ilusi (maya =m) yang menyelimuti kita selama ini. Sejalan dengan perjuangan tersebut, kemilau pribadi Sai
yang bijaksana dan penuh kasih (prema) diyakini secara perlahan akan memancarkan sinarnya. Setiap
wacananya selalu menyampaikan Kebenaran (Sathya), setiap tindakannya selalu mencerminkan Kebajikan
(Dharma), perasaannya selalu dipenuhi Kedamaian (Shanti), dan pandangannya selalu menyiratkan sikap
Tanpa Kekerasan (Ahimsa). Sinar yang terlahir dari pribadi seperti inilah yang kelak dapat menerangi,
menginspirasi, dan mentransformasi dunia ini menuju era keemasan (golden age).
Senin, 19 September 2011
Selasa, 30 Agustus 2011
Sai Seva 21 Agustus 2011
Kampung Suka Damai RT 3 RW 4 Sei Binti Tanjung Uncang Batam. Sekitar 1 Kilometer ke arah Tanjung Uncang dari lampu merah base camp. Perkampungan ruli depan pasar Fanindo, daerah sisa-sisa gusuran.
Acara pembagian sembako 'beras' dimulai agak telat sekitar jam 12 siang, karena ada kendala di pelabuhan ferry batam center. Ada 15 koli pakaian layak pakai yang dibawa dari Singapore di tahan oleh petugas bea cukai. Akhirnya Bhakta dari Singapore hanya membawa barang-barang yang bisa di hand carry.
Pembagian sembako cukup berjalan lancar, hingga rombongan berpamitan kepada warga. Ketika hendak menaikkan 'sisa' barang ke mobil, ternyata warga salah faham dikira semua sisa adalah hak mereka/ panitia. Keteganganpun tak terhindarkan. Anehnya tokoh masyarakat di sana bukannya berusaha meredakan situasi, justru turut memprovokasi. Bhakta satu persatu meninggalkan lokasi daripada menambah keruh situasi. Dua karung beras ditinggalkan untuk mesjid, sedangkan sisanya disumbangkan ke sekupang. Dua bingkisan untuk warga yang benar-benar kurang mampu juga dibagikan.
Ternyata tidak semua niat baik ditanggapi secara baik.
Senin, 27 April 2009
LAMBANG GANESHA
LAMBANG GANESHA
SEBAGAI PANUTAN GENERASI MUDAOLEH IDA BAGUS ARYA LAWA MANUABA
SHINDU
Sosok Dewata berbadan gemuk dan berkepala gajah ini sudah tidak asing lagi dalam kisah-kisah Purana maupun Itihasa. Bahkan, keagungannya sebagai dewata penguasa halangan tersebar menembus waktu. Kini Ganesha menjadi ikon lembaga-lembaga penting, sekolah-sekolah, atau pusat studi sebagai pembawa kebijaksanaan. Ganesha telah menjadi begitu populer, dan kepopulerannya tidak hanya pada kalangan umat Hindu, tetapi telah merambah dunia secara keseluruhan. Seluruh umat, dari Hindu, Jain, Islam, Kristen, hingga Budha mengakui Ganesha setidaknya sebagai sosok makluk lucu yang unik. Semua menghormati Ganesha sebagai pembawa keberuntungan di seluruh pelosok dunia.
Ganesha, atau Vinayaka diambil dari dua kata Sanskrta Gana yang berarti pasukan, dan isa yang bermakna pemimpin. Kata gana di sini merujuk kepada pasukan, atau antek-antek Siva sang ayah. Pemberian nama Ganesha kepada Dewata unik ini terkait dengan kisah dalam Siva Purana, di mana Gauri sang Ibu meminta anaknya dihidupkan kembali karena tewas dalam pertempuran melawan Siva. Siva dan Ganesha sebelumnya mengalami kesalahpahaman sehingga mereka bertarung. Siva kemudian mengakui Ganesha sebagai anak yang diciptakan Gauri (Parvati) dari manisan. Hanya sayangnya, Siva bukanlah ahli cangkok kepala yang mahir. Ia mengganti kepala anaknya dengan kepala makhluk pertama yang ditemukan oleh Visnu.. Visnu yang bertugas mencari pengganti kepala Ganesha bertemu dengan seekor gajah bernama Airavata. Visnu memenggal kepala gajah itu dengan Sudarsana Cakra-Nya, lalu menyerahkannya kepada Siva. Sementara sang gajah, karena telah dibunuh oleh Visnu mendapatkan kedudukannya kembali sebagai kendaraan Indra.
Ganesha kemudian diangkat sebagai kepala para gana. Ia diberikan kekuatan oleh seluruh dewata, sehingga Ganesha juga merupakan manifestasi kekuatan dari seluruh dewata. Siva Purana menyatakan bahwa hendaknya seseorang memujan Ganesha sebelum memulai suatu kegiatan, karena Ganesha telah diangkat menjadi dewata pertama yang dipuja sebagai mengusir halangan (Vighnaraja). Kisah Ganesha dapat dilihat dalam Siva Purana, Lingga Purana, dan Purana-Purana Tamasika lainnya.
Dalam literatur Veda, Ganesha menjadi figur Dewata lambang kepemudaan karena Ia sendiri memang diciptakan untuk menjadi muda. Ganesha, atau Vighnaraja (Dewata Kesuksesan) memiliki berbagai atribut unik yang sebenarnya sarat makna. Ada baiknya kita sebagai pemuda Hindu, khususnya yang kuliah di universitas berlambang Ganesha ini mengetahui karakter-karakter unik dari atribut Dewata berpertu besar ini.
Mari kija mulai dari kepala-Nya. Ganapati memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar berarti kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah. Sedangkan mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.
Ganesha juga memiliki dua telinga besar yang mengajarkan mari kita mendengarkan orang lain. Kita selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain. Dengarkan ucapan-ucapan suci, kata-kata dari Veda, dan seraplah pengetahuan dengan telingamu. Ganesha kehilangan satu gadingnya untuk menggurat Mahabharata di atas daun tal. Satu gading (Ekadanta) berarti kesatuan. Atribut ini menyarankan umat hendaknya bersatu untuk satu tujuan mulia. Lantas, Ganesha juga memiliki mulut yang hampir tidak kelihatan karena belalai-Nya yang dengan rakus menyantap manisan susu di tangan-Nya. Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang tidak-tidak. Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi. Banyak di antara kita yang membuang-buang waktu, biaya, dan energi untuk hal-hal yang tidak berguna. Waktu, biaya, dan energi itu dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna, sehingga hidup ini juga berguna.
Kita beralih ke badan Dewata yang besar ini. Hal pertama yang kita lihat pastilah perut-Nya, karena perut itu memang buncit. Ganesha memang selalu dimanja oleh ibu Parvati, istri Siva sebagai anak kesayangan. Perut buncit itu bukan sembarangan, melainkan lambang keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh Rwa Bhinneda, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada pula sedih. Ada siang, ada pula malam. Kita seharusnya tahu bahwa ada wajah seram kesedihan di balik tawa riang kita. Kita juga harus bersemangat karena di balik hujan air mata kesedihan ada cahaya kegembiraan. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya.
Figur Ganesha memegang sebilah kapak. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Ia adalah Dewata kesuksesan. Kapak berarti menumpas segala halangan dalam karya. Itulah sebabnya, ketika akan memulai suatu pekerjaan, berdoalah kepada Ganesha: Om Gam Ganapataye Namah! Sementara itu, di tangan kiri sang Dewa terdapat semangkuk manisan susu. Perlu diingat bahwa Ganesha adalah Dewata yang pemurah. Jika kita tekun dalam sadhana (disiplin spiritual), Ia tidak akan segan-segan memberi limpahan anugerah, seperti semangkuk penuh manisan susu itu.
Terakhir, ada seekor tikus yang selalu berada di dekat sang Dewata. Tikus, seperti sifat hewan aslinya, adalah hewan yang penuh nafsu mengigit. Ia memakan apa saja untuk memenuhi hasrat perutnya. Demikianlah tikus dijadikan lambang nafsu dalam figur Ganesha. Lalu mengapa tikus itu menjadi tunggangan (kendaraan) Dewata yang berberat badan tinggi ini? Tikus, atau nafsu harus ditundukkan. Kita harus bisa menjadikan nafsu sebagai kendaraan sehingga kita dapat mengendalikannya, namun banyak manusia kini menjadi kendaraan dari nafsunya sendiri.
SEBAGAI PANUTAN GENERASI MUDAOLEH IDA BAGUS ARYA LAWA MANUABA
SHINDU
Sosok Dewata berbadan gemuk dan berkepala gajah ini sudah tidak asing lagi dalam kisah-kisah Purana maupun Itihasa. Bahkan, keagungannya sebagai dewata penguasa halangan tersebar menembus waktu. Kini Ganesha menjadi ikon lembaga-lembaga penting, sekolah-sekolah, atau pusat studi sebagai pembawa kebijaksanaan. Ganesha telah menjadi begitu populer, dan kepopulerannya tidak hanya pada kalangan umat Hindu, tetapi telah merambah dunia secara keseluruhan. Seluruh umat, dari Hindu, Jain, Islam, Kristen, hingga Budha mengakui Ganesha setidaknya sebagai sosok makluk lucu yang unik. Semua menghormati Ganesha sebagai pembawa keberuntungan di seluruh pelosok dunia.
Ganesha, atau Vinayaka diambil dari dua kata Sanskrta Gana yang berarti pasukan, dan isa yang bermakna pemimpin. Kata gana di sini merujuk kepada pasukan, atau antek-antek Siva sang ayah. Pemberian nama Ganesha kepada Dewata unik ini terkait dengan kisah dalam Siva Purana, di mana Gauri sang Ibu meminta anaknya dihidupkan kembali karena tewas dalam pertempuran melawan Siva. Siva dan Ganesha sebelumnya mengalami kesalahpahaman sehingga mereka bertarung. Siva kemudian mengakui Ganesha sebagai anak yang diciptakan Gauri (Parvati) dari manisan. Hanya sayangnya, Siva bukanlah ahli cangkok kepala yang mahir. Ia mengganti kepala anaknya dengan kepala makhluk pertama yang ditemukan oleh Visnu.. Visnu yang bertugas mencari pengganti kepala Ganesha bertemu dengan seekor gajah bernama Airavata. Visnu memenggal kepala gajah itu dengan Sudarsana Cakra-Nya, lalu menyerahkannya kepada Siva. Sementara sang gajah, karena telah dibunuh oleh Visnu mendapatkan kedudukannya kembali sebagai kendaraan Indra.
Ganesha kemudian diangkat sebagai kepala para gana. Ia diberikan kekuatan oleh seluruh dewata, sehingga Ganesha juga merupakan manifestasi kekuatan dari seluruh dewata. Siva Purana menyatakan bahwa hendaknya seseorang memujan Ganesha sebelum memulai suatu kegiatan, karena Ganesha telah diangkat menjadi dewata pertama yang dipuja sebagai mengusir halangan (Vighnaraja). Kisah Ganesha dapat dilihat dalam Siva Purana, Lingga Purana, dan Purana-Purana Tamasika lainnya.
Dalam literatur Veda, Ganesha menjadi figur Dewata lambang kepemudaan karena Ia sendiri memang diciptakan untuk menjadi muda. Ganesha, atau Vighnaraja (Dewata Kesuksesan) memiliki berbagai atribut unik yang sebenarnya sarat makna. Ada baiknya kita sebagai pemuda Hindu, khususnya yang kuliah di universitas berlambang Ganesha ini mengetahui karakter-karakter unik dari atribut Dewata berpertu besar ini.
Mari kija mulai dari kepala-Nya. Ganapati memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar berarti kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah. Sedangkan mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.
Ganesha juga memiliki dua telinga besar yang mengajarkan mari kita mendengarkan orang lain. Kita selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain. Dengarkan ucapan-ucapan suci, kata-kata dari Veda, dan seraplah pengetahuan dengan telingamu. Ganesha kehilangan satu gadingnya untuk menggurat Mahabharata di atas daun tal. Satu gading (Ekadanta) berarti kesatuan. Atribut ini menyarankan umat hendaknya bersatu untuk satu tujuan mulia. Lantas, Ganesha juga memiliki mulut yang hampir tidak kelihatan karena belalai-Nya yang dengan rakus menyantap manisan susu di tangan-Nya. Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang tidak-tidak. Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi. Banyak di antara kita yang membuang-buang waktu, biaya, dan energi untuk hal-hal yang tidak berguna. Waktu, biaya, dan energi itu dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna, sehingga hidup ini juga berguna.
Kita beralih ke badan Dewata yang besar ini. Hal pertama yang kita lihat pastilah perut-Nya, karena perut itu memang buncit. Ganesha memang selalu dimanja oleh ibu Parvati, istri Siva sebagai anak kesayangan. Perut buncit itu bukan sembarangan, melainkan lambang keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh Rwa Bhinneda, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada pula sedih. Ada siang, ada pula malam. Kita seharusnya tahu bahwa ada wajah seram kesedihan di balik tawa riang kita. Kita juga harus bersemangat karena di balik hujan air mata kesedihan ada cahaya kegembiraan. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya.
Figur Ganesha memegang sebilah kapak. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Ia adalah Dewata kesuksesan. Kapak berarti menumpas segala halangan dalam karya. Itulah sebabnya, ketika akan memulai suatu pekerjaan, berdoalah kepada Ganesha: Om Gam Ganapataye Namah! Sementara itu, di tangan kiri sang Dewa terdapat semangkuk manisan susu. Perlu diingat bahwa Ganesha adalah Dewata yang pemurah. Jika kita tekun dalam sadhana (disiplin spiritual), Ia tidak akan segan-segan memberi limpahan anugerah, seperti semangkuk penuh manisan susu itu.
Terakhir, ada seekor tikus yang selalu berada di dekat sang Dewata. Tikus, seperti sifat hewan aslinya, adalah hewan yang penuh nafsu mengigit. Ia memakan apa saja untuk memenuhi hasrat perutnya. Demikianlah tikus dijadikan lambang nafsu dalam figur Ganesha. Lalu mengapa tikus itu menjadi tunggangan (kendaraan) Dewata yang berberat badan tinggi ini? Tikus, atau nafsu harus ditundukkan. Kita harus bisa menjadikan nafsu sebagai kendaraan sehingga kita dapat mengendalikannya, namun banyak manusia kini menjadi kendaraan dari nafsunya sendiri.
Jumat, 19 Desember 2008
PERINGATI ULANG TAHUN BAGHAWAN
Untuk ketiga kalinya sejak terbentuknya, SSG Batam memperingati Hari Kelahiran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba pada setiap 23 Nopember. Acara kali ini diadakan di aula Pura Satyadharma Mukakuning. Meski hujan mengguyur Batam dengan derasnya sejak sore harinya, namun semua Bhakta Sai termasuk juga Bhakta Sai dari komunitas warga India hadir tepat waktu pada acara tersebut. Acara dimulai pada pukul 7 malam dengan rangkaian acara bhajan melantunkan lagu-lagu pujian Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, yang dipimpin oleh Bhakta senior yaitu Dewa Gede Vayogayana. Seluruh Bhakta Sai yang hadir, semuanya secara bergantian membawakan lagu-lagu vaforitnya. Semua Bhakta bernyanyi dengan penuh semangat dan penuh antusias.
Di akhir acara Bhajan, ketua SSG Batam yaitu Gusti Ngurah Ray berkesempatan membacakan kata sambutannya. Dengan mengutip wejangan-wejangan dari Bhagawan beliau mengajak setiap Bhakta hendaknya semakin mempertebal rasa Ketuhanannya pada diri masing-masing. Pelayanan kepada masyarakat yang selama ini sudah berjalan, hendaknya terus ditingkatkan lagi. Bhakta Sai harus terjun langsung ke masyarakat memberikan pelayanan, bukan untuk mengasingkan diri dan hanya memikirkan keselamatan diri sendiri dengan melakukan Japa atau Dhyana (meditasi).
Moment perayaan Ulang Tahun Bhagawan ini hendaknya dijadikan moment untuk mereview kembali seberapa jauh perjalanan spiritual yang telah dicapai paling tidak dalam tahun terakhir ini. Dalam sabdanya Sri Bhagawan mengatakan bahwasannya Beliau tidak memiliki hari ulang tahun. Ulang tahun Beliau adalah saat dimana sifat-sifat ketuhanan itu bermekaran di hati setiap Bhakta.
Pada acara tersebut hadir pula Ketua PHDI Kepri yaitu Wayan Catrayasa beserta keluarga. Keluarga beliau semuanya adalah Bhakta Sai Baba. Dalam kepengurusan SSG Batam, Catrayasa menjabat sebagai penasehat SSG Batam.
Dalam kesempatan itu beliau berkenan memotong nasi tumpeng kemudian diberikan kepada ketua SSG Batam, dan selanjutnya pemotongan kue Ulang Tahun Bagawan yang diikuti dengan lagu Happy Birthday.
Bhakta dan undangan secara bergiliran melakukan Arathi yaitu persembahan api suci kehadapan Bhagawan. Acara berakhir sekitar pukul 11 malam diakhiri dengan parama shanti dan bersalam-salaman.
Di akhir acara Bhajan, ketua SSG Batam yaitu Gusti Ngurah Ray berkesempatan membacakan kata sambutannya. Dengan mengutip wejangan-wejangan dari Bhagawan beliau mengajak setiap Bhakta hendaknya semakin mempertebal rasa Ketuhanannya pada diri masing-masing. Pelayanan kepada masyarakat yang selama ini sudah berjalan, hendaknya terus ditingkatkan lagi. Bhakta Sai harus terjun langsung ke masyarakat memberikan pelayanan, bukan untuk mengasingkan diri dan hanya memikirkan keselamatan diri sendiri dengan melakukan Japa atau Dhyana (meditasi).
Moment perayaan Ulang Tahun Bhagawan ini hendaknya dijadikan moment untuk mereview kembali seberapa jauh perjalanan spiritual yang telah dicapai paling tidak dalam tahun terakhir ini. Dalam sabdanya Sri Bhagawan mengatakan bahwasannya Beliau tidak memiliki hari ulang tahun. Ulang tahun Beliau adalah saat dimana sifat-sifat ketuhanan itu bermekaran di hati setiap Bhakta.
Pada acara tersebut hadir pula Ketua PHDI Kepri yaitu Wayan Catrayasa beserta keluarga. Keluarga beliau semuanya adalah Bhakta Sai Baba. Dalam kepengurusan SSG Batam, Catrayasa menjabat sebagai penasehat SSG Batam.
Dalam kesempatan itu beliau berkenan memotong nasi tumpeng kemudian diberikan kepada ketua SSG Batam, dan selanjutnya pemotongan kue Ulang Tahun Bagawan yang diikuti dengan lagu Happy Birthday.
Bhakta dan undangan secara bergiliran melakukan Arathi yaitu persembahan api suci kehadapan Bhagawan. Acara berakhir sekitar pukul 11 malam diakhiri dengan parama shanti dan bersalam-salaman.
Minggu, 09 November 2008
Dharma Wacana Svami Candra di Batam
Om Sri Sai Ram,
Berbagi ananda, kami mengabarkan bahwa kemarin kita telah kedatangan salah satu Svami Candra (svami sebutan untuk orang suci yang hidup sebagai Brahmana), sebelum melakukan yatra ke Bali,
Beliau menyempatkan diri hadir di Batam, dan Bro. Wayan Catra adalah seorang Ghrastin yang beruntung melayani beliau.
Bhajan dimulai pukul 20.15 dengan alunan OM Karam, dan sepertinya beliau sangat ketat menjaga kekusyukan bhajan dengan memberi isyarat agar anak-anak lebih dijaga,
kemudian beliau mengatakan bahwa bhajan hanya akan sampai pukul 21.00. Masing-masing Sai Bhakta menjadi leader bhajan, dan Svami menutup bhajan hari itu dengan nyanyian "Sai Ram..Sai Ram Sai Sai Ram"
Kemudian akhir puja ditutup dengan arathi oleh Tuan rumah yang diiringi genta oleh Bro. Putu dan tiupan Sangka oleh adik kita Dede, sebagai tanda kemenangan (manggalam).
Didampingi oleh Ketua SSG Batam, Bro. Gusti Rai S. dan Bro. Vijae sebagai translater, Svami memulai wacananya dengan tema kasih (prema) yang dipadu dengan Sai Parenting (aturan menjadi orang tua yang baik menurut Bhagavan),
Svami menceritakan Bhagavan ketika masih kecil yang (permainanNYA/lilaNYA) begitu sempurna, kemudian beliau bertanya "Siapakah anak bagimu?", "Apakah engkau yang menciptakan?",
kemudian beliau bertanya "Begitu anakmu lahir, bagaimanakah kasihmu, setelah setahun, lima tahun, dan sepuluh tahun? apakah sama?". Jika anak yang "keluar" darimu, engkau memiliki kasih yang begitu besar,
bagaimana dengan kasih Bhagavan (Brahman) yang telah "mengeluarkanmu". Beliau selalu menjagamu, selalu melihatmu.
Apakah anakmu adalah milikmu? seharusnya engkau perlakukan anakmu dengan kasih, ajari ia tentang bhajan sedikit demi sedikit. Engkau memiliki tanggung jawab bagaimana anak itu nantinya".
Lebih lanjut Svami mengatakan, "Kita semua adalah anak-anak Tuhan, dan kita memiliki kualitas yang sama dengan Tuhan itu sendiri. Jika engkau memiliki kasih, itulah kekuatan Tuhan yang ada di dirimu, karena Tuhan adalah kasih.
Oleh karena kita memiliki ego, ahamkara, dan keterikatan maka pancaran kasih itu menjadi samar. Jika kita mengembangkan kasih, tidak perlu sadhana/latihan spiritual yang keras untuk menyadari bahwa kita adalah atma".
Beliaupun melanjutkan "Sehabis bhajan engkau melakukan apa? apakah hidupmu selalu diiringi dengan rutinitas bhajan, makan, tidur dan kerja? engkau harus memeriksa apakah hatimu (setelah bhajan) semakin dipenuhi dengan kasih ataukah tidak?
Tidak ada gunanya melakukan rutinitas bhajan tetapi engkau tidak berubah menjadi lebih baik. Kharaktermu haruslah lebih baik seiring sadhana yang engkau lakukan".
"Rahmat Bhagavan begitu berlimpah setiap harinya, tetapi kita selalu memberikan racun pada rahmat Beliau. Terkadang kita selalu menggunakan rahmat Beliau bukan di jalan bhakti.
Diibaratkan dengan sapi yang memberikan kita susu, apakah ia meminta kita untuk membalasnya? Jika engkau diberikan 10 liter susu, tetapi engkau menuangkan setitik racun, apakah susu itu berguna bagimu?
begitu juga dengan rahmat Bhagavan, seperti harta, kedudukan, apakah hal-hal itu membuatmu lebih dekat kepada Bhagavan atau tidak". Kemudian beliau menyarankan "Hiduplah penuh kemurnian, jangan pernah takut, karena Bhagavan bersamamu".
Kemudian beliau bertanya,"Siapakah diantara kalian yang ingin hidup ingin tanpa penderitaan, silahkan acungkan jari?", para Sai Bhakta sambil malu-malu mengacungkan jarinya.
Para Ibu-ibu (Werda Vikas) mengatakan "semuanya Svami", tetapi ada satu saudara Sai yang tidak mengacungkan jarinya, Svami pun bertanya "Mengapa?",
kemudian saudara yang lainnya pun menjawab "He want to Moksa, Svami", diiringi gelak tawa yang hadir Svami pun menjawab kembali "Hiduplah dengan hati yang murni, sehingga Bhagavan berstana di hatimu, bahkan untuk mencapai moksapun
engkau harus menempuh hidup yang murni, hidup dengan kasih, maka penderitaan (karma) pun dapat dilalui". Beliau selalu mengulang kata-kata "Purity, Divinity..".
Untuk menguatkan cinta beliau pun mengatakan bahwa "Esensi atma itu satu, kita banyak di sini tetapi hakikatnya (sambil menunjuk ke hati beliau) kita satu".
Dalam dharmawacananya Svami memberikan tiga tips sederhana untuk Sai Bhakta agar selalu hidup dalam kemurnian, yaitu :
1. Meditasi setiap pagi (note : ini adalah urutan pertama 9 Pedoman Perilaku bagi Sai Bhakta Sai).
Dengan sedikit humor beliau bertanya "Sudahkah kita bermeditasi setiap hari kepada Bhagavan?jika engkau pagi-pagi secara otomatis ke toilet untuk membuang kotoranmu,
kenapa meditasi tidak menjadi kebiasaan yang otomatis seperti halnya kebiasaan ke toilet?" Para Bhakta hanya tersenyum dengan contoh yang unik ini.
2. Berlatihlah namasmaranam setiap hari. Pujalah apapun nama yang engkau cintai, apakah Siva, Visnu, Laksmi, Durga. Efek karma akan terlewati.
Setiap nama pasti akan tersampaikan ke Bhagavan.Kebiasaan ini akan membuatmu mencintai Tuhan.
3. Menjalankan tradisi luhur Hindu di Bali. (note : seperti wacana Bhagavan, "Jangan pernah tinggalkan tradisi leluhurmu yang luhur").
Svami pun bertanya "Disebut apa?"
Kemudian para Bhakta yang hadir pun menjawab beragam "Sembahyang, Tri Sandhya, Panca Sembah", Svami pun menjawab cepat "Ya ! Lakukanlah itu, jangan pernah tinggalkan (don't leave it)".
Sebelum dharma wacana berakhir beliau memanggil satu persatu keluarga Bhakta untuk diberikan CD meditasi (musik) secara gratis.
Dalam kesempatan pertama beliau memanggil Sis. Ayu Yudi yang telah dianugrahi seorang putri. Ini sebagai wujud syukur atas kelahiran sang putri.
Kemudian dharma wacana diakhiri dengan cakupan tangan Svami di depan hidung beliau, sebagai pertanda penghormatan kepada atma yang ada di diri Sai Bhakta yang hadir.
Beliau pun mengucap...
"Bhagavan is GOD,
You are GOD too...
I always see GOD in all of you.
and be GOD.."
Jay Bolo Sai Natha Maharaj Ki...
ditulis kembali,
SSG Batam
Sekretaris
Berbagi ananda, kami mengabarkan bahwa kemarin kita telah kedatangan salah satu Svami Candra (svami sebutan untuk orang suci yang hidup sebagai Brahmana), sebelum melakukan yatra ke Bali,
Beliau menyempatkan diri hadir di Batam, dan Bro. Wayan Catra adalah seorang Ghrastin yang beruntung melayani beliau.
Bhajan dimulai pukul 20.15 dengan alunan OM Karam, dan sepertinya beliau sangat ketat menjaga kekusyukan bhajan dengan memberi isyarat agar anak-anak lebih dijaga,
kemudian beliau mengatakan bahwa bhajan hanya akan sampai pukul 21.00. Masing-masing Sai Bhakta menjadi leader bhajan, dan Svami menutup bhajan hari itu dengan nyanyian "Sai Ram..Sai Ram Sai Sai Ram"
Kemudian akhir puja ditutup dengan arathi oleh Tuan rumah yang diiringi genta oleh Bro. Putu dan tiupan Sangka oleh adik kita Dede, sebagai tanda kemenangan (manggalam).
Didampingi oleh Ketua SSG Batam, Bro. Gusti Rai S. dan Bro. Vijae sebagai translater, Svami memulai wacananya dengan tema kasih (prema) yang dipadu dengan Sai Parenting (aturan menjadi orang tua yang baik menurut Bhagavan),
Svami menceritakan Bhagavan ketika masih kecil yang (permainanNYA/lilaNYA) begitu sempurna, kemudian beliau bertanya "Siapakah anak bagimu?", "Apakah engkau yang menciptakan?",
kemudian beliau bertanya "Begitu anakmu lahir, bagaimanakah kasihmu, setelah setahun, lima tahun, dan sepuluh tahun? apakah sama?". Jika anak yang "keluar" darimu, engkau memiliki kasih yang begitu besar,
bagaimana dengan kasih Bhagavan (Brahman) yang telah "mengeluarkanmu". Beliau selalu menjagamu, selalu melihatmu.
Apakah anakmu adalah milikmu? seharusnya engkau perlakukan anakmu dengan kasih, ajari ia tentang bhajan sedikit demi sedikit. Engkau memiliki tanggung jawab bagaimana anak itu nantinya".
Lebih lanjut Svami mengatakan, "Kita semua adalah anak-anak Tuhan, dan kita memiliki kualitas yang sama dengan Tuhan itu sendiri. Jika engkau memiliki kasih, itulah kekuatan Tuhan yang ada di dirimu, karena Tuhan adalah kasih.
Oleh karena kita memiliki ego, ahamkara, dan keterikatan maka pancaran kasih itu menjadi samar. Jika kita mengembangkan kasih, tidak perlu sadhana/latihan spiritual yang keras untuk menyadari bahwa kita adalah atma".
Beliaupun melanjutkan "Sehabis bhajan engkau melakukan apa? apakah hidupmu selalu diiringi dengan rutinitas bhajan, makan, tidur dan kerja? engkau harus memeriksa apakah hatimu (setelah bhajan) semakin dipenuhi dengan kasih ataukah tidak?
Tidak ada gunanya melakukan rutinitas bhajan tetapi engkau tidak berubah menjadi lebih baik. Kharaktermu haruslah lebih baik seiring sadhana yang engkau lakukan".
"Rahmat Bhagavan begitu berlimpah setiap harinya, tetapi kita selalu memberikan racun pada rahmat Beliau. Terkadang kita selalu menggunakan rahmat Beliau bukan di jalan bhakti.
Diibaratkan dengan sapi yang memberikan kita susu, apakah ia meminta kita untuk membalasnya? Jika engkau diberikan 10 liter susu, tetapi engkau menuangkan setitik racun, apakah susu itu berguna bagimu?
begitu juga dengan rahmat Bhagavan, seperti harta, kedudukan, apakah hal-hal itu membuatmu lebih dekat kepada Bhagavan atau tidak". Kemudian beliau menyarankan "Hiduplah penuh kemurnian, jangan pernah takut, karena Bhagavan bersamamu".
Kemudian beliau bertanya,"Siapakah diantara kalian yang ingin hidup ingin tanpa penderitaan, silahkan acungkan jari?", para Sai Bhakta sambil malu-malu mengacungkan jarinya.
Para Ibu-ibu (Werda Vikas) mengatakan "semuanya Svami", tetapi ada satu saudara Sai yang tidak mengacungkan jarinya, Svami pun bertanya "Mengapa?",
kemudian saudara yang lainnya pun menjawab "He want to Moksa, Svami", diiringi gelak tawa yang hadir Svami pun menjawab kembali "Hiduplah dengan hati yang murni, sehingga Bhagavan berstana di hatimu, bahkan untuk mencapai moksapun
engkau harus menempuh hidup yang murni, hidup dengan kasih, maka penderitaan (karma) pun dapat dilalui". Beliau selalu mengulang kata-kata "Purity, Divinity..".
Untuk menguatkan cinta beliau pun mengatakan bahwa "Esensi atma itu satu, kita banyak di sini tetapi hakikatnya (sambil menunjuk ke hati beliau) kita satu".
Dalam dharmawacananya Svami memberikan tiga tips sederhana untuk Sai Bhakta agar selalu hidup dalam kemurnian, yaitu :
1. Meditasi setiap pagi (note : ini adalah urutan pertama 9 Pedoman Perilaku bagi Sai Bhakta Sai).
Dengan sedikit humor beliau bertanya "Sudahkah kita bermeditasi setiap hari kepada Bhagavan?jika engkau pagi-pagi secara otomatis ke toilet untuk membuang kotoranmu,
kenapa meditasi tidak menjadi kebiasaan yang otomatis seperti halnya kebiasaan ke toilet?" Para Bhakta hanya tersenyum dengan contoh yang unik ini.
2. Berlatihlah namasmaranam setiap hari. Pujalah apapun nama yang engkau cintai, apakah Siva, Visnu, Laksmi, Durga. Efek karma akan terlewati.
Setiap nama pasti akan tersampaikan ke Bhagavan.Kebiasaan ini akan membuatmu mencintai Tuhan.
3. Menjalankan tradisi luhur Hindu di Bali. (note : seperti wacana Bhagavan, "Jangan pernah tinggalkan tradisi leluhurmu yang luhur").
Svami pun bertanya "Disebut apa?"
Kemudian para Bhakta yang hadir pun menjawab beragam "Sembahyang, Tri Sandhya, Panca Sembah", Svami pun menjawab cepat "Ya ! Lakukanlah itu, jangan pernah tinggalkan (don't leave it)".
Sebelum dharma wacana berakhir beliau memanggil satu persatu keluarga Bhakta untuk diberikan CD meditasi (musik) secara gratis.
Dalam kesempatan pertama beliau memanggil Sis. Ayu Yudi yang telah dianugrahi seorang putri. Ini sebagai wujud syukur atas kelahiran sang putri.
Kemudian dharma wacana diakhiri dengan cakupan tangan Svami di depan hidung beliau, sebagai pertanda penghormatan kepada atma yang ada di diri Sai Bhakta yang hadir.
Beliau pun mengucap...
"Bhagavan is GOD,
You are GOD too...
I always see GOD in all of you.
and be GOD.."
Jay Bolo Sai Natha Maharaj Ki...
ditulis kembali,
SSG Batam
Sekretaris
Rabu, 03 September 2008
Peace Prayer
Om Sri Sai Ram,
Terhitung dari kemarin Swami telah merubah "PEACE PRAYER"
Menjadi sbb:
VERSI BARU
SAMASTHA LOKAA SUKHINO BHAWANTU
Dua kata yg di garis bawahi tidak dipisahkan satu sama lain.
VERSI LAMA
LOKAA SAMASTAA SUKHINO BHAVANTU
Adapun alasanya:
Yang LAMA ditujukan pada satu LOKA,yaitu planet bumi saja,
Sementara yg BARU ditujukan ke seluruh LOKA atau planet.
Swami menyebutkan terdapat 14 planet, yang masih ada kehidupan (bukan berwujud mahluk hidup)
di setiap planet yang berbeda.Doa yg baru ini adalah doa perdamaian utk ke 14 planet2 tsb.
Petunjuk:
'A' dilafalkan pendek
'AA' dilapalkan panjang
Anda boleh mulai memperkenalkan doa yg baru ini selekasnya pada saat acara doa bersama atau bhajan.
Terhitung dari kemarin Swami telah merubah "PEACE PRAYER"
Menjadi sbb:
VERSI BARU
SAMASTHA LOKAA SUKHINO BHAWANTU
Dua kata yg di garis bawahi tidak dipisahkan satu sama lain.
VERSI LAMA
LOKAA SAMASTAA SUKHINO BHAVANTU
Adapun alasanya:
Yang LAMA ditujukan pada satu LOKA,yaitu planet bumi saja,
Sementara yg BARU ditujukan ke seluruh LOKA atau planet.
Swami menyebutkan terdapat 14 planet, yang masih ada kehidupan (bukan berwujud mahluk hidup)
di setiap planet yang berbeda.Doa yg baru ini adalah doa perdamaian utk ke 14 planet2 tsb.
Petunjuk:
'A' dilafalkan pendek
'AA' dilapalkan panjang
Anda boleh mulai memperkenalkan doa yg baru ini selekasnya pada saat acara doa bersama atau bhajan.
Rabu, 27 Agustus 2008
Message for Today
Any service, be it in a hospital or in the Bhajan Group, have to be done with humility and reverence.
Only then can they yield chiththa suddhi (purification of mind and thought), which is the main benefit derivable from Service.
The constant recital of the Name of God - any of the million Names by which He is identified by human imagination or intelligence - is the best means of correcting
and cleansing the mind of man...By means of the Name, you can keep God ever neary.
Apapun juga bentuk pelayanan yang diberikan, baik di rumah-sakit maupun di dalam kelompok bhajan,
yang terpenting adalah bahwa pelayanan itu haruslah dilaksanakan dengan sikap rendah hati dan penuh penghormatan.
Sebab hanya dengan demikianlah, akan tercapai chiththa suddhi (pemurnian batin dan pikiran),
yang merupakan manfaat utama yang bisa dipetik dari tindakan pelayanan.
Pengulangan nama-nama Tuhan secara kontinu - melalui jutaan nama-nama-Nya yang bisa diindentifikasi melalui
imajinasi ataupun intellek manusia - merupakan cara terbaik untuk mengoreksi dan membersihkan batin manusia...
Melalui nama-nama Tuhan, engkau akan senantiasa berada dekat dengan-Nya. (Sathya Sai)
Only then can they yield chiththa suddhi (purification of mind and thought), which is the main benefit derivable from Service.
The constant recital of the Name of God - any of the million Names by which He is identified by human imagination or intelligence - is the best means of correcting
and cleansing the mind of man...By means of the Name, you can keep God ever neary.
Apapun juga bentuk pelayanan yang diberikan, baik di rumah-sakit maupun di dalam kelompok bhajan,
yang terpenting adalah bahwa pelayanan itu haruslah dilaksanakan dengan sikap rendah hati dan penuh penghormatan.
Sebab hanya dengan demikianlah, akan tercapai chiththa suddhi (pemurnian batin dan pikiran),
yang merupakan manfaat utama yang bisa dipetik dari tindakan pelayanan.
Pengulangan nama-nama Tuhan secara kontinu - melalui jutaan nama-nama-Nya yang bisa diindentifikasi melalui
imajinasi ataupun intellek manusia - merupakan cara terbaik untuk mengoreksi dan membersihkan batin manusia...
Melalui nama-nama Tuhan, engkau akan senantiasa berada dekat dengan-Nya. (Sathya Sai)
Langganan:
Postingan (Atom)